top of page

Inilah Dekade Terparah Persib Sepanjang Sejarah !

  • Gambar penulis:  persib fanshop
    persib fanshop
  • 22 Jan 2020
  • 4 menit membaca

Mungkin untuk bobotoh yang baru menyukai persib di tahun 2010 keatas menganggap persib itu tim besar dengan kekuatan finansial yang melimpah dan mempuyai basis supporter terbesar di indonesia bahkan asia. Dengan predikat seperti itu otomatis membuat tekanan kepada pemain dan pelatih yang bermain di Persib menjadi sangat besar.



Seolah-olah menjadi hal yang wajar ketika pemain atau pelatih yang tidak dapat memberikan hasil positif mendapat bullying dari para bobotoh. Bahkan yang lebih miris lagi kadang makian para spesies bobotoh jenis ini menyentuh hal-hal yang paling sensitif dari pemain atau pelatih seperti menghina fisik, warna kulit, keluarga dan yang terparah sampai melakukan pemukulan kepada pemain atau pelatih persib.

Namun dibalik ketidak puasan bobotoh dengan pencapaian Persib beberapa tahun kebelakang ini sebenarnya kita harus bersyukur karena Persib di dekade 2010 - 2020 merupakan salah satu dekade keemasan Persib sepanjang sejarah berdirinya klub. Kenapa seperti itu? Karena persib di dekade ini telah menghasilkan banyak prestasi, banyak menghasilkan pemain berbakat dan yang tidak kalah pentingnya Persib di dekade ini bisa menjadi tim profesional yang dijadikan role-model bagi seluruh klub di indonesia.

Lalu kapan dekade terparah Persib sepanjang sejarah? Memasuki dekade 1970-an, adalah catatan paling kelam yang harus dialami Persib. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, praktis tidak ada prestasi membanggakan yang diraih. Pada tahun 1971, Persib kalah bersaing dengan PSMS Medan yang akhirnya tampil sebagai juara, Persebaya Surabaya (runner-up), Persija Jakarta (peringkat 3), PSM Makassar (4), yang membuat Persib terlempar dari posisi ā€œ4 Besarā€. Akibatnya, Persib tidak berhak tampil di Turnamen ā€œPiala Soehartoā€ yang hanya diikuti oleh empat tim terbaik.


Dua tahun kemudian di Jakarta, Persib hanya mengakhiri kompetisi di peringkat ketujuh dari delapan kontestan dengan rekor sekali menang, sekali imbang dan 5 kali kalah. Satu-satunya kemenangan Persib dicatat pada partai pembuka ketika menjungkalkan juara bertahan, PSMS 3-1. Sedangkan lima kekalahan Persib dialami dari Persija 0-2 yang akhirnya tampil sebagai juara, Persipura Jayapura 0-2, Persebaya Surabaya 0-1, dan PSBI Blitar 0-1. Hasil imbang dicatat ketika bermain 2-2 dengan PSL Langkat. Kegagalan Persib sedikit terobati ketika salah seorang bintang muda Persib, Risnandar Soendoro dinobatkan sebagai pemain terbaik Kompetisi Perserikatan 1973.


Pada Kompetisi Perserikatan 1975, Persib benar-benar kehilangan tempat di jajaran elit sepak bola nasional. Saat itu, Persib tidak mampu meloloskan diri ke putaran final karena hanya menempati peringkat ketiga Pool D babak ā€œ18 Besarā€. Dari 4 partai yang dimainkan di Stadion Menteng Jakarta, Persib hanya mencatat dua kemenangan dari PSM Makassar 2-0 lewat gol Encas Tonif pada menit 74 dan Teten menit 81 serta Gasko Kolaka 4-0 melalui hattrick Dedi Sutendi dan Akub. Prestasi Persib kembali meningkat pada musim 1975-1978.



Setelah menjuarai babak kualifikasi Grup B di Stadion Siliwangi Bandung dan Stadion Bima Cirebon, Persib lolos ke putaran final. Pada babak kualifikasi ini, Persib mencatat rekor tak terkalahkan dan tak pernah kebobolan dalam empat partai yang dimainkannya. Pada pertandingan pertama, gol-gol yang disumbangkan Atik (menit 29), Nandar Iskandar (41-pen.), Max Timisela (43), Teten (44) dan Herry Kiswanto (60) membawa Persib menundukkan PSKB Binjai 5-0. Selanjutnya, Persib membantai Persisum Sumbawa 6-0 dan membekap PSM Makassar 3-0 lewat dua gol Tjetjep pada menit 16 dan 59 serta Zulham Effendi, empat menit menjelang pertandingan usai. Pada pertandingan penutup, Persib mengalahkan Perseban Banjarmasin 2-0 melalui gol yang diciptakan Zulham Effendi dan Nandar Iskandar sekaligus memastikan diri lolos ke babak ā€œ8 Besarā€. Namun, pada putaran final yang digelar di Jakarta, Persib harus mengubur impiannya lolos ke semifinal. Meski sempat mencatat kemenangan 2-0 atas Persipura lewat gol Atik dan Nandar Iskandar, namun dalam dua pertandingan terakhir, Persib dibekap Persebaya 0-2 dan tuan rumah Persija 0-3. Catatan sekali menang dan 2 kali kalah ini menempatkan Persib di peringkat ketiga Grup G.


Mulai tahun 1979, PSSI mulai menerapkan pembagian divisi buat tim-tim perserikatan yang mengharuskan sistem promosi dan degradasi diberlakukan. Ketika itu PSSI menetapkan, Divisi Utama Perserikatan hanya dihuni 5 tim dan tiga tim terbawah di putaran final kompetisi 1978 harus terdegradasi ke Divisi I. Karena hanya menempati peringkat ketiga Grup G, Persib harus menghadapi peringkat ketiga Grup F, Persiraja Banda Aceh untuk mencari tim ketiga yang terlempar ke Divisi I. Dua tim yang otomotis terdegradasi adalah tim juru kunci Grup F PSBI Blitar dan Grup G Persipura Jayapura. Pada partai play-off ini, Persib menyerah 1-2 dari Persiraja yang memaksanya bertarung dari ā€œkampung ke kampungā€ pada musim kompetisi berikutnya.


Pada musim pertamanya di Divisi I, Persib menjuarai Grup V yang merupakan babak kualifikasi pertama (tingkat zona). Di babak kedua tingkat nasional, Persib bergabung di Grup B bersama Perseden Denpasar, Persigowa Gowa dan PSP Padang. Persib memastikan diri lolos ke babak ā€œ6 Besarā€ setelah mencatat sekali menang, sekali imbang dan sekali kalah di Stadion Sriwedari Solo. Sebagai runner-up Grup B, Persib lolos bersama Perseden. Lolosnya Persib ke babak ā€œ6 Besarā€ ditentukan pada partai terakhir ketika mengalahkan Perseden 3-0 lewat gol Risnandar melalui titik penalti pada menit 8, Tjetjep (35) dan Ismawadi (42). Dalam dua pertandingan sebelumnya, Persib dikalahkan PSP 0-1 dan bermain imbang 1-1 dengan Persigowa. Gol Persib ke gawang Persigowa dicetak Itang pada menit 42. Namun, Persib yang tergabung di Grup D babak ā€œ6 Besar:, gagal kembali ke Divisi Utama, karena hanya mampu bermain imbang 0-0 dengan PSKB Binjai dan dikalahkan Persipura 1-2.


Foto : Marek Janota ( pelatih asing pertama persib )

Pada musim berikutnya, pengurus Persib mendatangkan pelatih asal Polandia, Marek Janota. Ketika itu, Janota ditugasi untuk membina para pemain muda Persib secara berkesinambungan. Sobur, Boyke Adam, Adeng Hudaya, Bambang Sukowiyono, Giantoro, Encas Tonif, Dede Iskandar, dan Irwan Sunarya adalah para pemain yang diorbitkan Janota. Kelak, pemain-pemain tersebut akan menjadi tulang punggung Persib senior. Sementara itu, tim Persib senior yang dipimpin Manajer H.M. Ruchiyat dan pelatih Risnandar serta dibantu dua sistennya, Wowo Sunaryo dan Suhendar terus berusaha bangkit. Dan akhirnya di tahun 1980 Persib berhasil kembali ke Divisi Utama.

Komentar


bottom of page