top of page

Sang Legendaris itu Robby Darwis

  • Gambar penulis:  persib fanshop
    persib fanshop
  • 21 Jan 2020
  • 4 menit membaca

Satu dari beberapa ikon Persib Bandung yang paling diingat dan masih dikenang oleh bobotoh. Dan juga turut melegenda bersama tim Garuda.


Robby Darwis, satu dari lima legenda terbesar Persib Bandung


Saat itu dipagi menuju siang yang cerah setelah melakukan tugas negara ( mengantar istri kerja ) badan terasa lemas tak bergairah karena semalam begadang menonton pertandingan bola tim kesayangan. Dan akhirnya coffeshop pun jadi tujuan utama dengan harapan menghilangkan rasa kantuk yang terus menggoda mata untuk terpejam.


Sesaat setelah pesanan kopi datang saya dikejutkan dengan sesosok pria tinggi-besar muncul dan sepertinya sosok tersebut sudah tidak asing lagi, Ya ternyata benar dugaan saya dia adalah Robby Darwis sang legenda Persib Bandung.


Robby Darwis, merupakan maestro legendaris Persib Bandung dan palang pintu utama timnas era 1980-an hingga awal 1990-an. Kiprahnya di lapangan hijau dimulai dari hobi main bola dan kecintaannya pada Persib sejak kanak-kanak. Ya saya mengetahui sepenggal cerita tentang beliau karena tentu saja sebagai bobotoh saya sangat mengaguminya.

Walaupun cukup lama menunggu kesempatan yang bagus untuk hanya bertegur sapa dengan beliau akhirnya terbayar dengan keramahan pria yang sekarang bekerja di BNI 46 Cabang Asia-Afrika, Bandung ini. Dan beruntungnya ternyata kang Robby Darwis sedang menunggu koleganya yang menurut beliau bisa datang sekitar 30 menitan lagi. Tentu saja momen ini tidak saya sia-sia kan dengan mengajukan banyak pertanyaan tentang pegalamannya membela Persib dan Tim Nasional indonesia.


Lahir di Lembang, 30 Oktober 1964, Robby kecil menyalurkan hobi sepakbolanya di klub kampung bernama Arjuna. Dari Arjuna, Robby kemudian masuk SSB Capella. ā€œDi Capella, sekitar tahun 1979 ada ujicoba Persib Selection. Waktu itu saya hanya main 45 menit, tapi terus dipanggil Pak Marek (Janota, pelatih Persib asal Polandia) dan Pak Obon (Syakban). Katanya Marek saat itu butuh pemain yang posturnya tinggi dan saya kepilih ikut latihan bersama (Persib),ā€ kenang pria yang kini menjabat sebagai penyelia kas di kantornya itu.


Robby yang mestinya resmi berkostum Persib, gagal merumput bareng Persib. Namanya terlempar lagi dari skuad akibat Persib terdegradasi dari Divisi Utama Perserikatan musim 1978-1979. Robby baru resmi masuk tim senior Persib empat tahun kemudian. Posisinya, stopper, posisi baru baginya. ā€œDulu waktu masih di tim kampung dan SSB, saya di posisi serang. Kadang penyerang, kadang gelandang serang. Baru di Persib itu saya dicoba pelatih di posisi bek. Sampai sekarang terus terbawa posisi ini,ā€ imbuhnya.


Bersama Persib, Robby melahap manis-pahit pengalaman tim kebanggaan kota kembang itu baik sepanjang era Perserikatan maupun ketika telah jadi Liga Indonesia. Yang tak pernah dilupakan Robby, kala Persib kembali merebut gelar juara Perserikatan musim 1986. ā€œSetelah berpuluh-puluh tahun menunggu (gelar) Kejuaraan Nasional, kan baru di zaman (kepelatihan) Marek itu,ā€ lanjut penggemar legenda AC Milan Franco Baresi itu.



Naiknya prestasi Persib dan popularitas Robby yang menyertainya membuat sebuah klub Malaysia kepincut. Kelantan FC lalu memboyong Robby tahun 1990. Namun sial bagi Robby, baru sekali main di Liga Malaysia sudah dikenai sanksi sebagai buntut sebuah insiden. Robby dituduh melakukan pemukulan dan diganjar hukuman larangan bermain tiga bulan kendati akhirnya hanya dijalaninya dua bulan. ā€œSangat sedikit sekali kesempatan saya main di situ. Manajemen tim sempat protes karena mereka masih ingin lihat saya lebih sering bermain.


Setelah itu saya kembali ke Persib sampai pensiun tahun 2000,ā€ kata Robby. Robby Darwis saat membawa Persib juara di kompetisi Perserikatan terakhir 1994 Robby jadi salah satu ikon Persib paling disanjung. Sepanjang kariernya, dia berperan penting mempersembahkan gelar juara untuk timnya: Perserikatan 1986, 1989-1990, 1993-1994, dan Liga Indonesia I 1994-1995. Sebelum melanjutkan karier di bank, Robby sempat melatih Persib pada 2008 dan 2010.

Membela Sang Garuda


Seiring melejitnya reputasi Robby di Persib, pada 1985 timnas PSSI memanggilnya bergabung dengan pelatnas PSSI dalam rangka persiapan Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan. ā€œDi seleksi timnas awalnya saya masih cadangan. Tapi ketika ada satu pemain senior yang cedera, di situ kesempatan saya,ā€ ujar Robby. Robby turut membawa tim Garuda terbang cukup tinggi di Asian Games itu. Menurut data Record Sport Soccer Statistics, Robby dkk. lolos ke perempatfinal sebagai runner up Grup D di bawah Arab Saudi. Timnas kemudian menembus semifinal setelah menyingkirkan Uni Emirat Arab lewat adu penalti, 4-3. Namun, di semifinal timnas dibekap tuan rumah empat gol nirbalas. Para ā€œgarudaā€ juga gagal merebut perunggu setelah di laga perebutan juara tiga takluk 0-5 dari Kuwait.


Pengalaman pahit Robby itu terobati setelah timnas Indonesia berhasil merebut emas di SEA Games 1987 dan 1993. Robby berperan penting di dalamnya. Pengalaman pahit kembali mendatangi Robby dkk. menjelang Kualifikasi Piala Dunia 1994. Saat melakukan training camp (TC) dan uji coba melawan klub Yunani AEK Athens, timnas di bawah asuhan Ivan Toplak dipermak 10 gol tanpa balas.





ā€œItu momen kita TC, sebulan di sana. Terus lawan klub Yunani itu, yang juara liga, juga. Banyak kendalanya ya buat tim, seperti udara dingin, lapangan yang nggak ada rumputnya, lengket kondisinya,ā€ kenangnya. Timnas akhirnya gagal di kualifikasi. Pun begitu dengan SEA Games 1997 di Jakarta. ā€œDi final kan kita kalah itu, adu penalti (lawan Thailand).


Selesai (SEA Games) itu, saya pensiun dari timnas,ā€ ujar Robby. Kini jelang perjuangan tim Garuda di Piala Dunia U-20, Robby punya harapan besar timnas di bawah asuhan Shin Tae-Yong mampu bicara banyak. Terlebih di zaman now, para pemain timnas acap dimanjakan stimulan berupa bonus. ā€œDulu mah nggak ada bonus apa-apa. Makanya perbedaannya jauh. Dulu cuma nama bangsa dan merah putih saja yang kita bawa di dada.


Soal penghargaam pemerintah, baru (Desember 2017) kemarin saja dari Kemenpora,ā€ tandas Robby, yang jadi satu di antara para pendulang emas SEA Games 1991 yang dihadiahi bonus uang Rp 40 juta dan piagam dari Kemenpora di Jakarta, 13 Desember 2017.


Robby pun mengingatkan para pemain persib yang sekarang harus bermain dengan hati dan jangan manja apalagi baperan, karena dinilainya perjuangan mereka bila dibandingkan dengan para pemain Persib dimasa lampau itu sangat berbeda. Ya memang saat ini mungkin tekanannya lebih besar tapi kan sepadan dengan apresiasi manajemen kepada pemain tersebut. Namun Robby menambahkan punya optimisme yang besar kepada squad persib yang sekarang agar menjadi tim juara lagi di Liga 1 Indonesia.

Komentar


bottom of page